Home Forums Blogs Photos People Search Chat Help About Ads Articles Chat Events Files More
Isra Mikraj dalam Pandangan Sufistik
 
Welcome to the Community!

Post view

Isra Mikraj dalam Pandangan Sufistik

Isra Mikraj - Sufistik

Isra Mikraj dalam Pandangan Sufistik


1. Dalam persoalan Isra Mikraj, ada dua hal yang terkait satu sama lain; yakni yang memperjalankan (Tuhan) yang diperjalankan (Rasulullah saw)

2. Dalam surah Al-Isra' 1


 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ . .

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya .

3. Yang memperjalankan adalah salah satu dari nama suci Ilahi yaitu  سُبْحَانَ  (Maha-Suci) yang dalam tasawwuf disebut dengan nama tanzih.

4. Dan yang diperjalankan adalah hamba-Nya yakni Rasulullah saw. Sehingga disini ada relasi keidentikan antara yang memperjalankan dan yang diperjalankan.

5. Relasi keidentikan tersebut adalah relasi kesucian bahwa, yang memperjalankan adalah Maha-Suci  سُبْحَانَ dan yang diperjalankan (hambaNya) juga suci.

6. Jadi syarat naik ke atas menuju singgasana Ilahi adalah kesucian sehingga Yang Maha Suci memperjalankan hambaNya.

7. Rasulullah saw sebagai insankamil dalam tasawwuf dipahami sebagai insan yang telah menyatu dengan asma Ilahi.

8. Sehingga yang disebut dengan insan kamil adalah mereka yang telah melalukan 4 perjalanan ruhaniah atau minimal sampai kepada perjalanan ke 3.

9. Perjalanan pertama adalah perjalanan "dari makhluk menuju Tuhan". Perjalanan kedua, "dari Tuhan menuju Tuhan bersama Tuhan".


10. Perjalanan ketiga, "dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan", dan perjalan keempat, "dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan".

11. Pada perjalan pertama, manusia berusaha bebas dari belenggu materi, tanpa itu, manusia tak bisa naik ke atas mengarungi alam ruhaniah hingga sampai ke singgasanaNya.

12.Setelah menjalani perjalanan pertama, manusia akan melanjutkan perjalanan kedua yaitu perjalanan dalam menyelami asma dan sifat Ilahi.

13. Perjalanan ketiga adalah perjalanan kewalian dan perjalanan keempat adalah perjalanan kerasulan.

14. Manusia yang telah mencapai 4 perjalanan (minimal perjalanan ke 3), ruh menjadi penggerak bagi tubuhnya, tubuh akan mengikuti gerak ruhnya.

15. Manusia yang telah melakukan keempat perjalanan tersebut, tanda bahwa ruhnya telah suci dan sangat lathif (lembut) sebab itu tubuhnya pun akan menjadi Lathif mengikuti ruhnya.

16. Filosofi Isra Mikraj Rasulullah saw bisa ditelusuri dalam gagasan Ibnu Sina dalam kitabnya al-Isyarat wa al-tanbihat, namth ke 9.

17. Ibnu Sina membahas persoalan Isra Mikraj terkait dengan kemungkinan pencapaian tertinggi manusia menuju singgasana Ilahi.

 

 

Kehidupan para pecinta dan kematian para pecinta tak sama dengan kehidupan dan kematian manusia pada umumnya. Bukan itu saja, bahkan kesadaran mereka juga berbeda. Mengapa? Sebab melalui cinta dan kekasih itulah mereka mencicipi  pengalaman kematian sejak

 



18. Kata Ibnu Sina:

"Singgasana Ilahi, tinggi dan tak bertepi sehingga tak dapat diraih oleh para pencari dan tak dapat dipahami sesuatu darinya, kecuali sebagian kecil saja dari manusia".


19. Tak ada seorang pun yang mampu sampai ke hakikat ZatNya, tapi tak perlu putus asa, karena setiap orang sampai pada derajatnya sendiri.


20. Perjalanan puncak Rasulullah saw telah digambarkan dalam Quran dalam surah An-Najm ayat 7 - 9.


 (An-Najm):

7 - sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
8 - Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
9 - maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).


21. Mikraj Rasulullah saw sampai kepada puncak dua garis hakikat eksistensi yaitu "dua busur panah" dan "lebih dekat", dan setelah ini tak bisa lagi digambarkan perjalanan manusia.

22. Maqam "lebih dekat" (ِ ْ أَدْنَىٰ) akan memangkas jarak antara tubuh (materi) dan ruh, akal dan indrawi, atau mulk dan malakut.


23. Disanalah puncak perjalanan yang dimungkinkan bagi Insankamil yakni wujud Rasulullah saw, dimana Jibrail as pun tak mampu melewatinya.

24. Pada Maqam ini wujud Rasulullah saw tenggelam dalam ketunggalan AhadiyahNya.

25. Sebab itu, jauh atau dekat antara hamba dengan Ilahi, bukan jarak materi dan indrawi, tapi tergantung kepada keluasan jiwa seseorang.

26. Jarak itu adalah keterikatan yang kita miliki, seperti keinginan-keinginan, kenikmatan syahwat, dan juga hawa nafsu.

27. Manusia secara esensi adalah makhluk yang bebas, namun manusia memenjarakan dirinya sendiri di dalam ikatan-ikatan dan keinginan-keinginan.

28. Manusia yang telah sampai kepada puncak Ilahi, hakikatnya akan menyatu dengan eksisensi dan akan meliputi eksistensi lainnya.

29. Manusia adalah wujud yang azali dan abadi, namun dalam satu titik perjalanan, manusia tinggal sementara di dunia ini.

30. Manusia punya derita abadi, namun penderitaannya adalah rahasia keabadiannya, manusia turun ke dunia ini agar mengalami penderitaan.

31. Manusia memahami keabadian, mengapa? Karena manusia memahami sementara dan terbatas, dan terbatas dipahami dari ketidakterbatasan.


Wassalam

oleh: M.N.Jabir Direktur Rumi Institute

 

Link lain tentang Rumi

 

“Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan, Agar bisa ku ungkapkan derita kerinduan cinta. Setiap orang yang jauh dari sumbernya, Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.

 

 

Adalah pancaran keindahan Ilahi,Namun yang itu, bukan kekasih,Adalah pencipta, namun yang seolah-olah indah itu, bukan makhluk. ~ Maulana Rumi   Bait syair di atas sebenarnya terkait dengan keindahan perempuan. Maulana Rumi ingin menjelaskan

 

Sejak manusia membuka mata dan mampu menyaksikan alam ini, manusia memiliki dua bentuk pengetahuan, pengetahuan terhadap diri dan pengetahuan terhadap di luar diri. Sudah banyak rahasia yang telah tersibak dari kedua pengetahuan tersebut. Tentu kemajuan

 

Jika manusia itu pada bentuk dan wajah,Ahmad dan Abu Jahal tak ada bedanya,.Jual telinga keledai! Beli telinga lain!Karena perkataan ini tak kan dipahami dengan telinga keledai.~ Maulana RumiJ

 

Rumi Institute 26.04.2017 0 1992
Comments
Order by: 
Per page:
 
  • There are no comments yet
   Comment Record a video comment
 
 
 
     
Recommend
Post info
Rumi Institute
Maulana Jalaluddin Rumi
Rate
0 votes
Actions
Categories
Komunitas Rumi (5 posts)
Lifestyle (1 posts)
Maulana Rumi (4 posts)
Rumi (6 posts)
Syair Rumi (3 posts)
Back to Top